Dokumen ini merangkum tiga metode estimasi kemampuan (ability, θ) multidimensional CAT:
Maximum Likelihood Estimation (MLE), Maximum A Posteriori (MAP / Bayes Modal), dan
Expected A Posteriori (EAP). Fokus dokumen: landasan teori tiap metode, pembuktian aljabar bahwa perhitungan identik dengan literatur, dan contoh perhitungan manual
per metode.
1. Konsep Fondasi: Prior, Likelihood, dan Posterior#
Sebelum masuk ke formula teknis, berikut intuisi ketiga konsep yang menjadi inti ketiga metode estimasi:
Prior: "Apa yang kita tahu tentang θ sebelum ada data?"#
Prior adalah pengetahuan awal tentang distribusi kemampuan dalam populasi, sebelum examinee itu menjawab soal.
Contoh: Asumsi umum populasi peserta tes adalah θ∼N(0,1) (normal dengan mean 0, variance 1)
Ini berarti: "Sebelum tes, kami percaya kebanyakan orang punya kemampuan dekat 0, dan semakin jauh dari 0 semakin jarang"
Misal θ=+3 dianggap sangat jarang di populasi (hanya 0.13% dalam normal)
Prior tidak bergantung pada respons - pure belief/asumsi tentang populasi, bukan tentang satu examinee
Prior adalah penyeimbang antara data (likelihood) dan asumsi awal tentang populasi
Rumus sederhana:π(θ)=N(μ,σ2) (biasanya prior normal dengan mean μ dan variance σ2)
Likelihood: "Seberapa cocok data dengan parameter θ?"#
Likelihood menjawab: Jika kemampuan examinee adalah θ, seberapa besar peluang dia menjawab respons yang kita observasi?
Jika kemampuannya θ=0 (median), likelihood mungkin 0.1 (tidak terlalu cocok - item pertama harusnya lebih mudah)
Jika kemampuannya θ=+1 (tinggi), likelihood mungkin 0.5 (lebih cocok - pola respons sesuai dengan kemampuan lebih tinggi)
Likelihood adalah fungsi dari θ yang menggukur "bukti yang ada mendukung θ berapa"
Semakin tinggi likelihood, semakin "masuk akal" nilai θ tersebut berdasarkan data respons
Rumus sederhana:L(θ)=∏iPi(θ)ui⋅Qi(θ)1−ui (produk probabilitas per item)
Posterior: "Apa yang kita tahu tentang θ setelah melihat data?"#
Posterior adalah update belief tentang θ setelah menggabungkan prior (pengetahuan awal) dengan likelihood (bukti dari respons).
Formula Bayes:p(θ∣u)=p(u)p(u∣θ)⋅p(θ)=NormalisasiLikelihood×Prior
Contoh interpretasi:
Prior: "Mayoritas populasi punya θ dekat 0" → N(0,1)
Likelihood dari data: "Respons ini cocok dengan θ=+1" → peak di +1
Posterior: "Setelah data ini, estimate kita adalah θ=+0.5" → compromise antara prior (0) dan likelihood (+1)
Posterior adalah distribusi probabilitas atas θ (bukan single point)
Posterior bergantung pada keduanya: prior (populasi) dan likelihood (data eksaminee)
Intuisi numeric: Jika prior sangat kuat (variance kecil), estimasi akan tertarik ke mean prior. Jika prior lemah (variance besar), estimasi akan lebih mengikuti likelihood.
dengan ui∈{0,1} respons examinee pada item i yang sudah di-administer, dan
Qi(θ)=1−Pi(θ). Mulder & van der Linden menyatakan langsung
setelah Eq.3 [1, p.276]: "The MLE can [be] found by setting the derivative of the logarithm of
(3) equal to zero and solv[ing] the system for θ using a numerical method such as
Newton–Raphson (e.g., Segall, 1996) or an EM algorithm." - namun paper tidak menuliskan bentuk
eksplisit turunannya. Turunan berikut dibuktikan sendiri secara aljabar (bukan dikutip), lalu
diverifikasi identik dengan kode produksi.
Bagaimana Tiga Metode Berbeda Menggunakan Prior dan Likelihood#
Metode
Filosofi
Rumus
Gunakan Prior?
Kapan Cocok
MLE
Maksimalkan likelihood murni
θ^=argmaxL(θ)
Tidak
Banyak item, prior tidak penting
MAP
Maksimalkan posterior (mode)
θ^=argmaxg(θ)=L(θ)×π(θ)
Ya
Awal tes (item sedikit), prior bisa menahan divergen
EAP
Rata-rata posterior
θ^=E[θ∣u]=∫θ⋅g(θ)dθ
Ya
Awal tes, ketika distribusi posterior penting (bukan hanya titik estimasi)
Perbedaan intuitif:
MLE: "Cari θ yang paling menjelaskan data yang ada, tanpa asumsi tentang populasi" → Estimasi "murni dari data"
Risiko: Bisa divergen jika data pattern khusus (semua benar/salah) karena tidak ada penahan dari prior
MAP: "Cari θ yang paling menjelaskan data SEKALIGUS konsisten dengan prior populasi" → Estimasi "data + prior pengetahuan"
Keuntungan: Prior bertindak sebagai "penalti" yang mencegah divergen
Risiko: Bisa over-shrink ke mean prior jika prior terlalu kuat
EAP: "Hitung rata-rata θ dari distribusi posterior (bukan hanya modus)" → Estimasi "rerata yang realistic"
Keuntungan: Selalu finite (integral atas domain terbatas), stabil
Risiko: Rata-rata bisa berbeda dari mode jika posterior skewed
Bonus: SE otomatis dihitung (variance posterior)
Mulder & van der Linden [1, p.276-277] merekomendasikan MAP untuk round awal CAT (saat item sedikit & divergen risk tinggi) dan EAP untuk keseimbangan antara stabilitas & efisiensi.
Ini identik dengan mle.rs:32-33: residual=(x-p)*p_prime/(p*q); grad += a*residual.
2.2 Fisher Information Matrix sebagai pengganti Hessian (Fisher scoring)#
Hessian eksak (turunan kedua logf) melibatkan turunan kedua Pi′ yang rumit. Praktik standar
-dipakai baik oleh Baker (2001, lihat #3.1) maupun Mulder & van der Linden-adalah
mengganti Hessian dengan negatif ekspektasinya, yaitu Fisher Information Matrix[1, Eq.4,
p.276]:
Substitusi ini disebut Fisher scoring (metode skor). Pembuktian bahwa formula ini identik
dengan w=(P')²/(PQ) yang dipakai mle.rs/map.rs/mirt::item_fim: substitusikan
P∗=(Pi−ci)/(1−ci) (invers dari Pi=ci+(1−ci)P∗), maka 1−P∗=(1−Pi)/(1−ci)=Qi/(1−ci),
sehingga
sama persis dengan Ii(θ) di atas. Untuk M2PL (ci=0):
wi=Pi(1−Pi), dan Ii(θ)=Pi(1−Pi)aiai⊤.
FIM total teradditif atas item yang sudah dijawab [1, Eq.6, p.277]:
IS(θ)=∑i∈SIi(θ), dan estimator ini
terdistribusi asimtotik normal [1, Eq.7, p.277]:
θ^∼N(θ0,IS−1(θ0)) - generalisasi
multivariat dari batas bawah Cramér–Rao.
Keterangan variabel (tambahan untuk estimasi):
Simbol
Arti
u=(u1,…,un)
Vektor respons examinee pada n item yang sudah di-administer
f(u∣θ)
Fungsi likelihood - peluang bersama seluruh respons pada θ
∇logf(θ)
Skor (score function) - gradien log-likelihood, =0 pada MLE
Ii(θ), IS(θ)
FIM item i / FIM kumulatif himpunan item S (identik dengan Ii(θ) di item_selection notes)
P∗
σ(zi), bagian sigmoid murni tanpa guessing (dipakai pada pembuktian wi)
Ketiga metode estimasi (MLE, MAP, EAP) menggunakan algoritma numerik iteratif untuk menemukan estimasi kemampuan θ^. Bagian ini menjelaskan konsep umum yang berlaku di semua metode.
Iterasi adalah proses berulang menebak dan menyempurnakan untuk mencari jawaban yang tepat. Berbeda dengan rumus sederhana yang langsung memberi hasil, algoritma numerik bekerja seperti ini:
Analogi Konkret: Menyetel Radio
text
Tebakan awal (θ₀): Tombol di posisi random → Suara berisik ❌ ↓ (Dengarkan dan perbaiki posisi)Tebakan 1 (θ₁): Tombol digeser → Suara mulai jernih ↓ (Dengarkan dan perbaiki lagi)Tebakan 2 (θ₂): Tombol digeser lagi → Suara lebih jernih ↓Tebakan 3 (θ₃): Tombol fine-tuning → Suara jernih sempurna ↓Tebakan 4 (θ₄): Tombol tidak perlu digeser lagi ✓ SELESAI
Dalam notasi matematika, setiap iterasi mengikuti pola:
θ^s+1=θ^s+Δθs
di mana:
s = nomor iterasi (0, 1, 2, 3, ...)
θ^s = estimasi pada iterasi ke-s
Δθs = perubahan parameter (step size) pada iterasi s
Konvergensi adalah kondisi ketika perubahan parameter menjadi sangat sangat kecil sehingga iterasi bisa dihentikan. Kriteria konvergensi formal yang dipakai di semua metode:
θ^s+1−θ^s<10−6⇒KONVERGEN - Iterasi Berhenti
Artinya: Jika perubahan norm kurang dari 0.000001, maka nilai θ^ sudah stabil dan siap digunakan sebagai estimasi final.
MLE mencari θ^ yang memaksimalkan f(u∣θ)[1, Eq.2, p.276] - lihat #2 untuk definisi
lengkap dan pembuktian skor/FIM. Iterasi Newton–Raphson (Fisher scoring) univariat, dibuktikan
identik dengan kode produksi, pertama kali dituliskan eksplisit dengan angka oleh Baker (2001),
The Basics of Item Response Theory (2nd ed.), Bab 5 "Estimating an Examinee's Ability",
Eq.[5-1], p.86[2]:
Untuk M2PL univariat (c=0, k=1), ∇logf=∑ai(ui−Pi) (#4.1) dan
IS=∑ai2PiQi (#4.2) - Eq.[5-1] Baker adalah Fisher scoring
θ^s+1=θ^s+IS−1∇logf pada kasus 1-dimensi, dituliskan
dengan notasi (a,b,c) alih-alih (a,d,c) (lihat #3.2.1 untuk konversi d=−ab).
Generalisasi ke k>1 dimensi mengganti pembagian skalar dengan perkalian
matriks invers:
Mulder & van der Linden mencatat langsung setelah definisi
MLE [1, p.276]: "The likelihood function may not have a maximum (e.g., when only correct or
incorrect item responses are observed), or a local instead of a global maximum may be found." -
dibuktikan ulang secara eksperimental di #5.2.3.
Keterangan variabel:
Simbol
Arti
θ^s
Estimasi kemampuan pada iterasi ke-s
ai (Baker) ≡ai (notasi vektor)
Parameter diskriminasi item i
N
Jumlah item yang sudah di-administer
IS(θ)−1
Invers FIM kumulatif - berperan sebagai "step size" matriks pada Newton step
SE bukan formula terpisah - ia jatuh langsung dari sifat asimtotik normal yang sudah dibuktikan di
#2.2[1, Eq.7, p.277]:
θ^∼N(θ0,IS−1(θ0)). Jika IS−1(θ0)
adalah matriks kovarians (asimtotik) dari estimator, maka variance per-dimensi adalah elemen
diagonalnya, dan SE adalah akarnya:
SE(θ^j)=[IS(θ^)−1]jj,j=1,…,k
dengan IS(θ^) dievaluasi pada estimasi final (konvergen), bukan
pada titik awal. Untuk kasus univariat (k=1), ini tereduksi ke bentuk skalar yang memakai penyebut
yang sama persis dengan Newton step Eq.[5-1] Baker [2, p.86] (lihat #3.1):
SE(θ^)=i=1∑Nai2Pi(θ^)Qi(θ^)1
Identik dengan kode produksi:se_vector() (mirt.rs:62-71) menghitung
diag(IS−1) persis seperti rumus di atas, dipanggil lewat
McatEngine::compute_se (engine.rs:159): EstimationMethod::Mle => se_vector(cum_fim, k).
cum_fim sendiri adalah IS(θ^) - dijumlahkan dari item_fim()
(mirt.rs:26-36, definisi identik #2.2)
atas seluruh item yang sudah dijawab, dievaluasi pada θ^ hasil konvergensi -
bukan dihitung di dalam mle.rs itu sendiri (lihat komentar mle.rs:34-36: "MLE's SE is derived
afterward from the cumulative FIM (McatEngine::compute_se), not produced here"), melainkan satu
langkah terpisah setelah loop Newton-Raphson berhenti.
Interpretasi: SE mengukur presisi estimasi θ^ - semakin banyak item terjawab (atau
semakin diskriminatif item-nya, ai besar), semakin besar IS, semakin kecil
IS−1, dan semakin kecil SE (estimasi makin presisi). Karena MLE tidak punya suku prior
penambah informasi, SE-nya selalu ≥ SE MAP pada data identik - dibuktikan di
#4.1.2: HMAP⪰IS⇒HMAP−1⪯IS−1.
Item Baker (2001, p.87) dalam parameterisasi (a,b,c), dikonversi ke (a,d,c) produksi via
d=−ab (karena z=aθ+d=a(θ−b)):
Item
a
b (Baker)
d=−ab
c
u
1
1.0
−1
+1.0
0
1
2
1.2
0
0.0
0
0
3
0.8
1
−0.8
0
1
A prioriθ^0=1.0 - dikutip langsung, Baker (2001, p.87): "Initially, the θ^s
on the right side of the equal sign is set to some arbitrary value, such as 1."
Iterasi 1 (M2PL sehingga P=P∗=σ(aθ+d)):
Step 1: Hitung zi=aθ+d untuk setiap item dengan θ^0=1.0:
Item
a
d
zi=a(1.0)+d
1
1.0
+1.0
1.0(1.0)+1.0=2.0
2
1.2
0.0
1.2(1.0)+0.0=1.2
3
0.8
-0.8
0.8(1.0)−0.8=0.0
Step 2: Hitung Pi=σ(zi)=1+e−zi1 dan Qi=1−Pi:
Item
zi
Pi=σ(zi)
Qi
1
2.0
1+e−2.01=1+0.13531=0.8808
1−0.8808=0.1192
2
1.2
1+e−1.21=1+0.30121=0.7685
1−0.7685=0.2315
3
0.0
1+e01=21=0.5000
1−0.5000=0.5000
Step 3: Hitung residual & weight menggunakan Eq.[5-1] Baker untuk setiap item:
Residual: residi=ai(ui−Pi) dan weight: wti=ai2PiQi
Evaluasi FIM pada estimasi finalθ^MLE=0.3248462760 (bukan pada θ^0):
Item
zi=aθ^+d
Pi
Qi
ai2PiQi
1
1.0(0.324846)+1.0=1.324846
0.789987
0.210013
(1.0)2(0.789987)(0.210013)=0.165908
2
1.2(0.324846)+0.0=0.389816
0.596238
0.403762
(1.2)2(0.596238)(0.403762)=0.346663
3
0.8(0.324846)−0.8=−0.540123
0.368159
0.631841
(0.8)2(0.368159)(0.631841)=0.148875
sum
IS(θ^)=0.661446
SE(θ^MLE)=IS(θ^)1=0.6614461≈1.229569
(Bukan kebetulan bahwa IS(θ^)=0.661446 nyaris identik dengan Hessian di
denominator Iterasi 4 (0.6614, lihat langkah update terakhir) - Newton-Raphson berhenti persis saat
θ^ konvergen, sehingga Hessian pada iterasi konvergensi terakhir memang dievaluasi pada
titik yang sama dengan θ^MLE final.)
Menggunakan seluruh 7-item bank yang sama seperti
Item Bank Snapshot, dengan pola
respons campuran (bukan seragam per content-area - lihat catatan Divergen di
#3.2.3):
Item
a
d
u
m2p-v001
[1.9,0.2,0.3]
0.40
1
m2p-v002
[1.7,0.2,0.2]
0.10
0
m2p-n001
[0.3,1.9,0.4]
0.80
0
m2p-n002
[0.3,1.8,0.4]
0.50
1
m2p-r001
[0.5,0.4,2.0]
0.30
1
m2p-r002
[0.3,0.8,1.9]
0.60
0
m2p-r003
[0.4,0.3,1.8]
0.70
1
Starting θ^0=[0,0,0].
Iterasi 1 - ∇logf dan IS dihitung persis seperti #2.1/#2.2, dijumlahkan atas ke-7 item:
Step 1: Hitung (linear predictor zi) zi=ai⋅θ0+di untuk setiap item dengan θ0=[0,0,0]:
Step 3: Hitung residual per item menggunakan residuali=(ui−Pi)⋅Pi′/(PiQi)=(ui−Pi) (untuk M2PL):
Residual ini adalah untuk mengukur seberapa jauh prediksi model meleset dari respons aktual peserta pada item itu, dan menjadi bahan baku untuk membangun gradien (skor) yang menggerakkan update θ^.
Item
u
(ui−Pi)
Kontribusi ke gradien = ai×(ui−Pi)
m2p-v001
1
1−0.5987=0.4013
[1.9,0.2,0.3]×0.4013=[0.7625,0.0803,0.1204]
m2p-v002
0
0−0.5250=−0.5250
[1.7,0.2,0.2]×(−0.5250)=[−0.8925,−0.1050,−0.1050]
m2p-n001
0
0−0.6900=−0.6900
[0.3,1.9,0.4]×(−0.6900)=[−0.2070,−1.3110,−0.2760]
m2p-n002
1
1−0.6225=0.3775
[0.3,1.8,0.4]×0.3775=[0.1133,0.6795,0.1510]
m2p-r001
1
1−0.5744=0.4256
[0.5,0.4,2.0]×0.4256=[0.2128,0.1702,0.8512]
m2p-r002
0
0−0.6456=−0.6456
[0.3,0.8,1.9]×(−0.6456)=[−0.1937,−0.5165,−1.2266]
m2p-r003
1
1−0.6682=0.3318
[0.4,0.3,1.8]×0.3318=[0.1327,0.0995,0.5972]
Step 4: Agregasi gradien (jumlah semua kontribusi):
Verifikasi konvergensi iterasi 3, sesuai kriteria #2.3/#3.1∥θ^s+1−θ^s∥<10−6 - dan karena Δθ^=θ^s+1−θ^s persis oleh konstruksi Newton step, kedua notasi ini nilainya identik:
Hasil: 5.02×10−4≫10−6 → BELUM KONVERGEN, lanjut ke iterasi 4.
Iterasi 4 dengan θ^3=[0.037969,−0.653704,0.296573]:
Di sekitar akar persamaan skor, Newton-Raphson konvergen kuadratik - gradien dan FIM sudah sangat dekat dengan titik optimum, sehingga step berikutnya mengecil drastis dibanding iterasi 3:
FIM dievaluasi pada estimasi finalθ^MLE=[0.037969,−0.653704,0.296573] -
pola perhitungan sama seperti Step 1-6 Iterasi 1 di atas, hanya di titik konvergen:
Interpretasi: dimensi reasoning (SE≈0.754) paling presisi diestimasi - konsisten
dengan item bank yang punya 3 item dominan-reasoning (a3∈{2.0,1.9,1.8}) vs hanya sebaran lebih
kecil untuk verbal/numeric, sehingga informasi (FIM) terkumpul lebih banyak di dimensi reasoning.
Menggunakan 3-item subset (m2p-v001, m2p-n001, m2p-r001) dengan
u=[1,1,1] (seluruhnya benar).
Item
a
d
u
m2p-v001
[1.9,0.2,0.3]
0.40
1
m2p-n001
[0.3,1.9,0.4]
0.80
1
m2p-r001
[0.5,0.4,2.0]
0.30
1
Starting θ^0=[0,0,0].
Iterasi 1 dengan θ0=[0,0,0]:
z values sama dengan DEMO 2 Iterasi 1 (karena dimulai dari [0,0,0]):
z1=0.40,z2=0.80,z3=0.30 → P1=0.5987,P2=0.6900,P3=0.5744
Residual: (1−P1)=0.4013,(1−P2)=0.3100,(1−P3)=0.4256 (semua positif karena semua benar)
Gradien dan FIM dihitung seperti DEMO 2, tapi hanya 3 item dan semua respons benar:
Δθ^(1)≈[0.3245,0.8942,0.6531]
θ^1=[0.3245,0.8942,0.6531]
Iterasi 2 dengan θ^1=[0.3245,0.8942,0.6531]:
Hitung zi baru dengan norm yang lebih besar:
z1=[1.9,0.2,0.3]⋅[0.3245,0.8942,0.6531]+0.40=0.6166+0.1789+0.1959+0.40=1.3914z2=[0.3,1.9,0.4]⋅[0.3245,0.8942,0.6531]+0.80=0.0974+1.6990+0.2612+0.80=2.8576z3=[0.5,0.4,2.0]⋅[0.3245,0.8942,0.6531]+0.30=0.1623+0.3577+1.3062+0.30=2.1262
Residual masih positif (semua benar): (1−Pi)>0 untuk semua item
Karena semua residual positif dan tidak ada respons salah untuk "menyeimbangkan", gradien terus mendorong θ^ ke arah yang memperbesar semua Pi menuju 1.
θ^2≈[1.847,2.156,1.843]
Iterasi 3-4 (pola berlanjut):
Norm terus meningkat: ∥θ^3∥≈5.2, ∥θ^4∥≈8.9, dst.
Sebab matematis: dengan k=3 item dan k=3 dimensi, matriks parameter A=[1.9,0.2,0.3;0.3,1.9,0.4;0.5,0.4,2.0] memiliki rank penuh. Ada arah v unik (eigenvector dominan dari A⊤A) sehingga Av>0 (semua komponen positif). Sepanjang θ=tv dengan t→∞, semuaPi→1 serentak, sehingga likelihood terus naik tanpa mencapai maksimum interior - hanya asimtot pada Pi=1 untuk semua item.
Fungsi skor ∇logf tidak pernah betul-betul mencapai nol, tapi mendekati nol dari arah positif:
limt→∞∇logf(tv)=0+(dari komponen positif)
Iterasi berhenti setelah 100 loop dengan:
θ^MLE=[16.065,14.291,11.594],∥θ^∥=24.43
(Nilai besar tak-bermakna, bukan estimasi kemampuan yang interpretabel.)
Mengapa DEMO 2 tidak divergen meskipun 7 item:
DEMO 2 menggunakan 7 item dengan pola respons campuran - tidak semua benar, ada yang salah:
u=[1,0,0,1,1,0,1]. Adanya respons salah menciptakan "penghenti" pada gradien - tidak semua
ai mendorong θ ke satu arah, ada yang "menarik balik" ketika Pi terlalu
tinggi. Sistem tidak memiliki arah pemisahan sempurna yang konsisten di semua dimensi, sehingga MLE
konvergen ke nilai interior yang masuk akal [0.038,−0.654,0.297].
Ini menunjukkan pentingnya pola respons yang beragam untuk estimasi MLE yang stabil di awal CAT.
Landasan teori paling matang & tertua - dasar dari seluruh literatur IRT sejak Lord (1980),
dan Newton-Raphson/Fisher scoring-nya sudah didokumentasikan lengkap dengan contoh numerik
ber-halaman oleh Baker (2001) [2, Eq.5-1, p.86-88].
Tidak butuh asumsi distribusi populasi (prior) - estimasi murni berbasis data respons
examinee sendiri (frequentist), tidak bias oleh pilihan prior yang keliru.
Asimtotik efisien & normal [1, Eq.7, p.277] - untuk tes yang cukup panjang, varians estimasi
mendekati batas bawah Cramér–Rao.
Kekurangan:
Divergen bila pola respons dapat dipisahkan sempurna oleh arah linear tertentu dari
ai - dibuktikan langsung di #3.2.3, bukan hanya kasus trivial
all-correct/all-incorrect. Risiko ini lebih tinggi di awal tes (item sedikit) - persis mengapa
MCAT umumnya memakai MAP di round-round awal (lihat #2).
Tidak ada mekanisme built-in untuk mencegah estimasi ekstrem, sehingga kasus divergen menghasilkan nilai besar tak-berguna (mis. ∥θ^∥=24.43 di #3.2.3).
Butuh minimal beberapa item dengan variasi respons (benar & salah) untuk estimasi yang stabil -
tidak cocok dipakai sebagai estimator tunggal di 1-2 round pertama CAT.
MAP (disebut juga Bayes Modal/BM) memaksimalkan posterior, bukan likelihood murni - Magis &
Raîche (2012), "Random Generation of Response Patterns under Computerized Adaptive Testing with
the R Package catR", Journal of Statistical Software 48(8), #2.2 "Ability estimation", p.4-5[3]:
dengan f(θ)prior dan L(θ) likelihood (identik f(u∣θ) di
#2). Magis & Raîche [3, p.4]: "The choice of a prior distribution is
usually driven by some prior belief of the ability distribution among the population of
examinees. The most common choice is the normal distribution with mean μ and variance
σ2." Catatan ini menggunakan multivariate normalπ(θ)=N(μ,Σ)
dengan Σ diagonal. Paper aslinya (BM
diformalkan oleh Mislevy 1986 [4], dirujuk di [3, p.4]) tidak dapat diakses gratis untuk
verifikasi halaman langsung - diverifikasi silang melalui Magis & Raîche [3] yang open access dan
mereproduksi definisi Eq.5 secara eksplisit dengan nomor persamaan.
Dua istilah ini sering tertukar padahal levelnya berbeda: variance bukan hal terpisah dari
prior - variance adalah salah satu parameter di dalam prior, bukan konsep yang sejajar. Jadi kalau ditulis matematis, prior = N(μ, Σ).
Prior = keseluruhan asumsi/keyakinan tentang distribusi θ sebelum ada data respons -
mencakup bentuk distribusinya (di sini: normal), titik tengahnya (μ), dan lebar
sebarannya (Σ).
Mean (μ) = parameter di dalam prior yang menentukan estimasi ditarik ke arah mana
(biasanya 0, mewakili "peserta rata-rata").
Variance (Σ) = parameter di dalam prior yang menentukan seberapa kuat tarikan
itu. Variance kecil = prior "yakin"/sempit = tarikan kuat (shrinkage besar ke μ). Variance
besar = prior "longgar"/lebar = tarikan lemah, estimasi mendekati MLE murni.
Analogi: "Saya percaya kemampuan peserta di populasi berbentuk lonceng (normal), berpusat di
0" adalah prior-nya. "Seberapa lebar/sempit lonceng itu" adalah variance-nya - satu
angka di dalam prior tersebut.
Dampak konkret ke perhitungan (item bank & respons identik #4.2.2, Iterasi 1, start θ^0=μ=[0,0,0]
karena θ0=μ, prior gradient di Step 4 selalu nol berapa pun Σ-nya, sehingga efek
Σ pada iterasi ini murni lewat Hessian di Step 7-9):
Prior
Σ (variance)
Σ−1 (precision)
θ^1 (numeric)
Interpretasi
Sangat kuat/yakin
0.25
4
−0.1641
shrinkage besar, paling dekat ke μ=0
Existing di demo ini
1
1
−0.3794
shrinkage sedang
Longgar
4
0.25
−0.5769
shrinkage kecil
Tanpa prior (MLE)
∞
0
−0.7017
tidak ada shrinkage sama sekali
Semakin kecil variance (Σ↓), semakin besar precision-nya (Σ−1↑),
semakin besar "penalti" yang ditambahkan ke HMAP=IS+Σ−1,
semakin kecil step Newton-nya, dan estimasi makin tertarik ke μ. Bila Σ bukan diagonal
(dimensi berkorelasi di populasi), Σ−1 juga akan punya nilai off-diagonal,
sehingga prior di satu dimensi ikut menarik dimensi lainnya - kode produksi saat ini memakai
Σ diagonal saja (prior_cov_diag), jadi kasus ini tidak dibahas lebih lanjut di sini.
Pembuktian (bukan dikutip, diturunkan sendiri dari Eq.5 di atas): untuk prior multivariate
normal π(θ)=(2π)−k/2∣Σ∣−1/2exp(−21(θ−μ)⊤Σ−1(θ−μ)):
(turunan standar bentuk kuadratik multivariat - eksak, bukan ekspektasi, karena logf memang
kuadratik murni). Menggabungkan dengan skor & FIM likelihood dari #4.1/#4.2:
∇logg(θ)=∇logf(θ)−Σ−1(θ−μ)HMAP≈IS(θ)+Σ−1
Newton step: θ^s+1=θ^s+HMAP−1∇logg,
mulai dari θ^0=μ, bukan 0 seperti MLE.
Karena Σ−1⪰0 selalu ditambahkan ke IS(θ)⪰0,
HMAP⪰HMLE - informasi MAP selalu ≥ MLE, menjelaskan standard
error MAP yang lebih kecil, sesuai [3, Eq.6, p.5]:
se(θ^BM)=1/1/σ2+∑iIi(θ^BM) (bentuk univariat).
Generalisasi multivariat dan pembuktian bahwa formula ini memang dihitung oleh kode produksi -
dijabarkan di #4.1.2.
Keterangan variabel (tambahan untuk MAP):
Simbol
Arti
g(θ)
Posterior tak-ternormalisasi =f(θ)L(θ)
f(θ), π(θ)
Densitas prior (dipakai bergantian, notasi Magis & Raîche vs notasi umum)
μ, Σ
Mean & kovarians prior (produksi: prior_mean, diag(prior_cov_diag))
Σ−1
Prior precision - presisi/informasi prior, ditambahkan langsung ke FIM
Sama seperti MLE (#3.1.1), SE MAP berasal dari pendekatan
Laplace: di sekitar mode posterior θ^BM, posterior didekati normal dengan matriks
kovarians = invers Hessian posterior yang sudah dibuktikan di #4.1,
HMAP=IS(θ)+Σ−1 - Hessian yang sama persis
dengan yang dipakai Newton-Raphson untuk mencari θ^BM itu sendiri (tidak ada perhitungan
tambahan terpisah). Generalisasi multivariat dari bentuk univariat Magis & Raîche [3, Eq.6, p.5]:
Untuk k=1 dengan Σ−1=1/σ2, ini tereduksi tepat ke
se(θ^BM)=1/1/σ2+∑iIi(θ^BM)[3, Eq.6, p.5] yang dikutip di
#4.1.
Karena HMAP⪰IS (dibuktikan #4.1),
HMAP−1⪯IS−1 (invers matriks definit-positif membalik urutan
Loewner) - sehingga SEMAP≤SEMLEuntuk setiap dimensi, secara aljabar menjelaskan
pengamatan "informasi MAP selalu ≥ MLE" di #4.1: prior menambah informasi, sehingga
selalu memperkecil (atau menyamakan, jika Σ−1→0) SE dibanding MLE murni pada
data identik.
Identik dengan kode produksi:map::estimate() sendiri tidak menghitung SE (map.rs:51-53:
posterior_se: None, sesuai komentar "MAP's SE is derived afterward from cum_fim + prior_cov_inv
(McatEngine::compute_se), not produced here") - persis seperti MLE, satu langkah terpisah setelah
Newton-Raphson berhenti yang menghitung rumus di atas:
se_vector() (mirt.rs:62-71) itu sendiri identik dengan definisi di
#3.1.1: akar diagonal invers matriks yang diberikan - hanya
matriks yang diberikan berbeda (cum_fim + prior_cov_inv untuk MAP, vs cum_fim saja untuk MLE).
Konsekuensi praktis lain: karena Σ−1 selalu ≻0 untuk prior proper, SE MAP
tetap terdefinisi bahkan pada n=0 item (posterior = prior, HMAP=Σ−1)
berbeda dari SE MLE yang None/tak terdefinisi sebelum ada item terjawab sama sekali (IS=0
tidak invertible).
Pada titik ini θ^2 sudah sangat dekat dengan mode posterior, sehingga ∇logL dan −∇logf hampir saling meniadakan:
∇logL≈0.130769,∇logf=−0.130769,∇logg≈0.00000000
HMAP≈1.684383,Δθ^≈2.70×10−9
θ^3=θ^2+Δθ^≈0.130769
Verifikasi konvergensi:∣Δθ^∣=2.70×10−9<10−6⇒KONVERGEN - iterasi berhenti (persis pola yang sama seperti demo MLE #3.2.1: perubahan harus benar-benar jatuh di bawah 10−6, bukan sekadar "terlihat kecil" setelah pembulatan tampilan).
Perbandingan dengan MLE pada data identik:
Metode
Hasil
Start
Prior
MLE
0.3248
θ0=1.0
tidak ada
MAP
0.1308
θ0=0
N(0,1)
MAP tersusut (shrinkage) signifikan ke arah mean prior μ=0 - dari 0.3248 menjadi 0.1308 (60% lebih dekat ke 0). Ini konsekuensi HMAP>HMLE yang menyebabkan step size lebih kecil dan menarik estimasi ke arah prior.
Step tambahan: Hitung Standard Error (SE) (teori #4.1.2)
Karena kriteria konvergensi terpenuhi tepat di Iterasi 3, HMAP pada titik itu (dihitung di Step 6
Iterasi 3 sebelumnya, HMAP≈1.684383) langsung dipakai untuk SE - tidak perlu evaluasi ulang:
SE(θ^MAP)=HMAP1=1.6843831≈0.770512
Dibandingkan MLE pada data identik (SE(θ^MLE)=1/0.661446≈1.229569, dihitung
di #3.2.1) - SE MAP 37% lebih kecil (0.7705 vs 1.2296),
konsekuensi langsung HMAP=0.661446+1.0=1.684383>IS(θ^)MLE=0.661446 yang
dibuktikan di #4.1.2.
MAP mulai dari θ^0=μ=[0,0,0] (kebetulan sama nilainya dengan start MLE di
#3.2.2 karena μ=0, tapi secara konseptual berbeda sumber: start dari mean prior, bukan arbitrary zero).
Step 3: Hitung residual (ui−Pi) dan kontribusi ke gradien ai(ui−Pi):
Item
u
(ui−Pi)
Kontribusi = ai×(ui−Pi)
m2p-v001
1
1−0.5987=0.4013
[0.7625,0.0803,0.1204]
m2p-v002
0
0−0.5250=−0.5250
[−0.8925,−0.1050,−0.1050]
m2p-n001
0
0−0.6900=−0.6900
[−0.2070,−1.3110,−0.2760]
m2p-n002
1
1−0.6225=0.3775
[0.1133,0.6795,0.1510]
m2p-r001
1
1−0.5744=0.4256
[0.2128,0.1702,0.8512]
m2p-r002
0
0−0.6456=−0.6456
[−0.1937,−0.5165,−1.2266]
m2p-r003
1
1−0.6682=0.3318
[0.1327,0.0995,0.5972]
Menjumlahkan seluruh kontribusi (persis perhitungan yang sama dengan MLE Iterasi 1, lihat #3.2.2, karena likelihood gradient tidak bergantung pada prior):
Menjumlahkan seluruh Ii (matriks lengkap 3×3, bukan hanya diagonal) menghasilkan FIM total - persis sama dengan FIM MLE Iterasi 1 di #3.2.2, karena FIM likelihood juga tidak bergantung pada prior:
Step 2: Hitung Pi, Qi, Pi′ berdasarkan zi baru (P bergerak lebih sedikit dari titik start dibanding MLE Iterasi 2 karena step MAP lebih kecil - lihat #3.2.2 sebagai pembanding):
Item
zi
Pi
Qi
Pi′
m2p-v001
0.3850
0.5951
0.4049
0.2410
m2p-v002
0.0693
0.5173
0.4827
0.2497
m2p-n001
0.1364
0.5341
0.4659
0.2488
m2p-n002
-0.1256
0.4686
0.5314
0.2490
m2p-r001
0.4240
0.6044
0.3956
0.2391
m2p-r002
0.5566
0.6356
0.3644
0.2316
m2p-r003
0.8338
0.6972
0.3028
0.2111
Step 3: Hitung kontribusi ke likelihood gradientai(ui−Pi), lalu jumlahkan:
1.80×10−6≫10−6⇒BELUM KONVERGEN (meski gradiennya kelihatan "sangat kecil"), lanjut ke iterasi 4.
Ini koreksi terhadap versi sebelumnya di dokumen ini yang menyimpulkan "konvergen" langsung di iterasi 3 - kesimpulan itu keliru karena hanya menilai gradien secara kasar/dibulatkan, bukan mengecek ∥Δθ^∥ terhadap ambang 10−6 seperti kriteria resmi yang dipakai map.rs:40 (if delta_norm < 1e-6).
Iterasi 4 dengan θ^3=[0.0105124,−0.3655597,0.1340402]:
Sama seperti pola konvergensi kuadratik Newton-Raphson pada demo MLE #3.2.1/#3.2.2 - begitu dekat dengan akar, error mengecil drastis tiap iterasi:
∥θ^4−θ^3∥=∥Δθ^∥≈4.57×10−13<10−6⇒KONVERGEN - iterasi berhenti pada iterasi ke-4.
Hasil final:θ^MAP=[0.010512,−0.365560,0.134040] (konvergen di iterasi 4, bukan 3 - dibulatkan [0.0105,−0.3656,0.1340] untuk tabel perbandingan di bawah)
Perbandingan langsung:
Metode
θ^verbal
θ^numeric
θ^reasoning
MLE (no prior)
0.0380
-0.6537
0.2966
MAP (Σ=I)
0.0105
-0.3656
0.1340
Analisis shrinkage:
Verbal:0.0380→0.0105 (72% lebih dekat ke 0) - shrinkage minimal
Numeric:−0.6537→−0.3656 (44% lebih dekat ke 0) - shrinkage signifikan
Reasoning:0.2966→0.1340 (55% lebih dekat ke 0) - shrinkage sedang
MAP tersusut (shrinkage) ke arah 0 di ketiga dimensi - konsekuensi langsung HMAP=IS+I≻IS yang dibuktikan di #4.1. Hessian yang lebih besar berarti curvature posterior lebih tajam, sehingga step-size lebih kecil dan penarik dari μ=0 lebih kuat.
Step tambahan: Hitung Standard Error (SE) (teori #4.1.2)
Menggunakan HMAP(3) dari Iterasi 3 (titik konvergen praktis, karena
θ^4≈θ^3 hingga presisi 10−6):
Dibandingkan MLE pada data identik (SE(θ^MLE)≈[0.8309,0.8458,0.7536],
dihitung di #3.2.2) - SE MAP lebih kecil di ketiga
dimensi (24-32% penyusutan), pola shrinkage yang sama seperti pada titik estimasi θ^ sendiri
(lihat "Analisis shrinkage" di atas): prior menyumbang informasi tambahan Σ−1=I
yang langsung memperkecil variance posterior di semua dimensi.
Step 1-2: Hitung zi, Pi, Qi, Pi′ (dot product dengan [0,0,0] sehingga zi=di, persis pola yang sama seperti #4.2.2 Iterasi 1):
Item
zi
Pi
Qi
Pi′
m2p-v001
0.400000
0.598688
0.401312
0.240261
m2p-n001
0.800000
0.689974
0.310026
0.213910
m2p-r001
0.300000
0.574443
0.425557
0.244458
Step 3: Kontribusi ke likelihood gradientai(ui−Pi) - semua residual positif karena ketiga respons benar (ui=1 untuk semua i), berbeda dari #4.2.2 yang polanya campuran:
Item
u
(ui−Pi)
Kontribusi
m2p-v001
1
0.401312
[0.762493,0.080262,0.120394]
m2p-n001
1
0.310026
[0.093008,0.589048,0.124010]
m2p-r001
1
0.425557
[0.212779,0.170223,0.851115]
∇logL=[1.068280,0.839534,1.095519]
Step 4: Prior gradient (pada θ^0=μ, jadi nol seperti biasa di iterasi pertama):
∇logf=−I([0,0,0]−[0,0,0])=[0,0,0]
Step 5: Posterior gradient=∇logL (karena θ0=μ):
∇logg=[1.068280,0.839534,1.095519]
Step 6: FIM per itemIi=Pi′aiai⊤, dijumlahkan atas 3 item:
(Step sebesar ini wajar - belum ada resistansi prior sama sekali di iterasi pertama, sama seperti #4.2.2)
Iterasi 2 dengan θ^1=[0.422843,0.319247,0.395565]:
Step 1-2: Hitung zi, Pi, Qi, Pi′ baru (semua Pi meningkat tajam - efek "semua benar" mendorong θ ke atas):
Item
zi
Pi
Qi
Pi′
m2p-v001
1.385920
0.799940
0.200060
0.160036
m2p-n001
1.691649
0.844441
0.155559
0.131360
m2p-r001
1.430250
0.806940
0.193060
0.155788
Step 3: Kontribusi ke likelihood gradient (residual sudah menyusut - Pi dekat 1, tapi tetap positif, terus mendorong θ naik seperti pola MLE divergen):
Item
u
(ui−Pi)
Kontribusi
m2p-v001
1
0.200060
[0.380114,0.040012,0.060018]
m2p-n001
1
0.155559
[0.046668,0.295562,0.062224]
m2p-r001
1
0.193060
[0.096530,0.077224,0.386120]
∇logL=[0.523311,0.412798,0.508361]
Step 4: Prior gradient - di sinilah perbedaan kunci dengan MLE mulai terasa, prior mulai "menahan":
Verifikasi konvergensi:2.75×10−13<10−6⇒KONVERGEN - iterasi berhenti pada iterasi ke-5.
θ^MAP=[0.4719,0.3688,0.4505],∥θ^MAP∥≈0.7494
Ringkasan mekanisme dari 5 iterasi di atas: posterior gradient menyusut jauh lebih cepat daripada likelihood gradient saja - dari ≈[1.07,0.84,1.10] (Iterasi 1, murni likelihood karena θ0=μ) menjadi ≈[0.10,0.09,0.11] (Iterasi 2) lalu ≈[0.002,0.002,0.003] (Iterasi 3), karena selisih antara likelihood gradient (yang terus positif, mendorong ke luar) dan prior gradient (yang tumbuh negatif sebanding jarak dari μ, menarik ke dalam) mengecil drastis begitu keduanya saling mendekati - inilah yang membuat MAP berhenti di titik finite ∥θ∥≈0.75, alih-alih terus naik tanpa batas seperti MLE (∥θ∥=24.43 setelah 100 iterasi, lihat #3.2.3).
MLE vs MAP pada divergen case (ringkasan kualitatif):
θ1=[0.4228,0.3192,0.3956], norm ≈0.66 (dihitung di atas)
Kedua metode punya prior gradient nol di iterasi 1 (θ0=μ=0), tapi FIM MAP sudah +I sejak awal sehingga arah step-nya berbeda
Iterasi 2-4
θ terus naik tanpa henti, norm → puluhan
θ melambat cepat, norm →0.75 dan konvergen di iterasi ke-5 (dihitung di atas)
Prior resistance −Σ−1(θ−μ) tumbuh sebanding jarak dari μ, memotong likelihood gradient sampai nyaris nol
Iterasi 100 (batas maksimum)
berhenti paksa oleh iteration cap, norm =24.43, tidak konvergen (lihat #3.2.3)
sudah konvergen jauh sebelumnya (iterasi ke-5), norm =0.75
MLE tidak pernah mencapai kriteria ∥Δθ∥<10−6; MAP mencapainya 20× lebih cepat
(Catatan koreksi: versi sebelumnya di dokumen ini menyatakan MAP baru konvergen di sekitar "iterasi 50-100" dengan norm bertahap 0.57→0.72→0.75 - klaim itu tidak akurat. Perhitungan presisi di atas menunjukkan MAP pada kasus ini konvergen jauh lebih cepat, di iterasi ke-5, norm-nya sudah 0.6612→0.7475→0.7494 dan stabil sejak iterasi ke-3.)
Mekanisme regularisasi (formulasi teknis):
Pada iterasi besar di MLE dengan θ besar:
∇logL(θ)→0+(asymptotik positif, tidak pernah melewati nol)
Tidak ada suku lawan, jadi Newton step kecil tapi selalu "naik":
θ^s+1=θ^s+IS−1∇logL(terus naik)
Dengan MAP:
∇logg(θ)=∇logL(θ)−Σ−1(θ−μ)
Suku kedua selalu negatif dan tumbuh linier seiring ∥θ∥ jauh dari μ:
∇logg(θ)→∇logL+−(linear term growing)→may cross zero
Pada suatu θ finite, dua suku SALING MENIADAKAN dan terbentuk root interior. Mode posterior selalu finite untuk prior proper, persis seperti dijelaskan Magis & Raîche [3, p.4-5]: "The posterior density is proper" (untuk prior proper + likelihood).
Tidak pernah divergen untuk prior proper - dibuktikan langsung pada kasus yang membuat MLE
divergen di #4.2.3.
Landasan teori kuat (Bayes modal, Mislevy 1986 [4]; diverifikasi silang via Magis & Raîche [3,
Eq.5-6, p.5]), sekaligus tetap murah komputasi - Newton-Raphson dengan FIM, sama seperti MLE,
hanya menambah Σ−1 ke Hessian dan suku prior ke gradien.
Efektif dipakai sejak round pertama CAT (start dari μ, bukan butuh estimasi awal
arbitrer seperti MLE) - cocok untuk re-estimasi di awal tes ketika jumlah item masih sedikit.
Kekurangan:
Bias ke arah prior - jika μ tidak mencerminkan kemampuan examinee sebenarnya
(mis. populasi prior salah untuk sub-grup tertentu), estimasi MAP secara sistematis tertarik ke
μ, terbukti pada #4.2.2 (MAP = MLE meski data sama).
Sumber asli metode ini, Bock & Mislevy (1982), "Adaptive EAP estimation of ability in a
microcomputer environment", Applied Psychological Measurement 6(4):431-444 [5], tidak dapat
diakses gratis untuk verifikasi halaman langsung - diverifikasi silang melalui Magis & Raîche [3]
yang secara eksplisit mengaitkan Eq.10 dengan Bock & Mislevy (1982) [3, p.5]: "The third estimator
is the expected a posteriori (EAP) estimator (Bock and Mislevy 1982)."
Magis & Raîche [3, p.6] menyatakan integral pada Eq.10-11 "are approximated, for instance by
adaptive quadrature or numerical integration" - tanpa memberi resep pasti. Kode produksi
mendekati integral dengan kuadratur Gauss-Hermite klasik (Bock & Mislevy 1982 [5]): titik grid
adalah akar polinomial Hermite (fisikawan) Hpts, dihitung via algoritma Golub-Welsch (1969)
[7] - nilai eigen dari matriks Jacobi tridiagonal simetris dengan diagonal nol dan off-diagonal
i/2 - lalu digeser & diskalakan per dimensi ke prior N(μd,σd2), dengan
μd dan σd2 diambil dari prior_mean/prior_cov_diag yang sama dipakai MAP
(#4.1) - EAP dan MAP dengan demikian selalu mengintegralkan/memaksimalkan posterior
yang identik, hanya beda cara meringkasnya (mean vs modus):
θq,d=μd+2σdxq,Aq=πwq,q=0,1,…,pts−1
dengan xq = node Gauss-Hermite standar (akar Hpts) dan wq = bobot Gauss-Hermite
standarnya (dari Golub-Welsch: wq=π⋅vq[0]2, vq = eigenvector ternormalisasi
ke-q). Substitusi perubahan variabel θ=μ+2σx mengubah integral kontinu menjadi:
yang eksak untuk f polinomial hingga derajat 2⋅pts−1 - bobot Aq sudah mengintegralkan
densitas prior Gaussian secara analitik, sehingga ∑qAq=1 tepat (tidak perlu evaluasi
N(θq;μ,σ) terpisah, dan invarian terhadap μ,σ karena murni hasil substitusi
variabel). Menjumlahkan atas seluruh kombinasi grid k-dimensi (ptsk
titik total):
Pola penjumlahan multi-indeks atas grid ini sama seperti teknik kuadratur Gauss-Hermite
k-dimensi pada Chalmers (2012), "mirt: A Multidimensional Item Response Theory Package for the
R Environment", JSS 48(6), Eq.6, p.5[6]:
P~ℓ=∑qm⋯∑q1Lℓ(xℓ∣Ψ,K)g(Kq1)g(Kq2)⋯g(Kqm)
meski Eq.6 [6] dipakai untuk mengintegralkan θ sebagai nuisance parameter pada estimasi
parameter item (EM), bukan untuk EAP examinee individual, teknik diskretisasi grid multi-indeksnya
identik.
5.1.1 Algoritma Golub-Welsch: cara menentukan grid#
Grid di EAP adalah kumpulan titik-titik diskrit sepanjang sumbu θ yang dipakai untuk mengaproksimasi integral di rumus EAP (yang tadi kita bahas) secara numerik, karena integral kontinu ∫−∞+∞ tidak bisa dihitung langsung secara komputasi, harus didekati dengan penjumlahan berhingga.
Landasan teorinya adalah teorema kuadratur Gauss klasik: untuk kuadratur n-titik terhadap fungsi
bobot w(x) pada suatu domain, node yang membuat kuadratur eksak untuk polinomial berderajat setinggi
mungkin (2n−1) adalah akar-akar polinomial ortogonal derajat-n terhadap w(x) pada domain itu.
Untuk domain (−∞,∞) dengan w(x)=e−x2, polinomial ortogonalnya adalah polinomial
Hermite (fisikawan) Hn - sehingga node xq = akar Hpts, persis definisi di atas. Golub &
Welsch (1969) [7] menunjukkan akar-akar ini (dan bobotnya) bisa dihitung tanpa menyelesaikan polinomial
secara aljabar - hanya lewat dekomposisi eigen matriks Jacobi tridiagonal simetris yang dibangun
dari relasi rekursi tiga-suku (three-term recurrence) milik polinomial ortogonal itu sendiri. Contoh
numerik di tiap langkah di bawah memakai n=pts=5, kasus yang sama dipakai di
#5.2.1.
Langkah 1 - relasi rekursi menjadi matriks Jacobi. Polinomial Hermite fisikawan memenuhi rekursi
Hi+1(x)=2xHi(x)−2iHi−1(x). Setelah dinormalisasi menjadi fungsi ortonormal φi (agar
∫φiφje−x2dx=δij), rekursi ini menjadi simetris:
xφi(x)=2i+1φi+1(x)+2iφi−1(x),i=0,1,…,n−1
artinya "kalikan dengan x" adalah operator linear yang direpresentasikan pada basis
{φ0,…,φn−1} oleh matriks tridiagonal simetris Jn: diagonal nol (karena
e−x2 simetris di sekitar 0, tak ada suku ai yang tersisa) dan off-diagonal
Ji,i+1=Ji+1,i=(i+1)/2 untuk i=0,…,n−2.
Contoh (n=5): off-diagonal J5 adalah 0.5,1,1.5,2≈0.7071,1.0,1.2247,1.4142 (untuk i=0,1,2,3), sehingga
J5=00.70710000.707101000101.22470001.224701.41420001.41420
persis matriks jacobi yang dibangun di gauss_hermite() (eap.rs:12-30) sebelum didekomposisi eigen.
Langkah 2 - eigenvalue Jn = akar Hn = node kuadratur. Karena Jn adalah matriks operator
"kalikan dengan x" pada basis {φi}, polinomial karakteristik det(xI−Jn) sebanding
dengan φn(x) (dan karenanya dengan Hn(x)) - sehingga eigenvalue Jnadalah akar-akar
Hn, tanpa perlu memfaktorkan polinomial derajat-n secara eksplisit. Ini krusial untuk n besar,
yang tidak lagi punya bentuk tertutup praktis seperti kasus n=5 di bawah.
Contoh (n=5): dekomposisi eigen J5 di atas menghasilkan node xq={0,±0.958572,±2.020183}. Kebetulan untuk n=5 ini bisa diverifikasi tanpa alat numerik, karena
H5(x)=8x(4x4−20x2+15) tereduksi ke persamaan kuadrat pada u=x2:
4u2−20u+15=0⇒u=820±160⇒xq={0,±0.958572,±2.020183}
identik dengan eigenvalue J5. Setelah diskalakan θq=2σxq (σ=1):
{0,±1.355626,±2.856970}, node yang dipakai di #5.2.1.
Untuk n berapa pun selain kasus kecil seperti ini, tidak ada bentuk tertutup lagi dan dekomposisi
eigen numerik (SymmetricEigen) menjadi satu-satunya cara praktis.
Langkah 3 - eigenvector menentukan bobot. Teorema Golub-Welsch [7] menyatakan bobot kuadratur
wq=μ0⋅vq,02, dengan μ0=∫e−x2dx=π (momen ke-0 fungsi bobot) dan
vq,0 komponen pertama eigenvector ternormalisasi ke-q.
Contoh (n=5): eigenvector ternormalisasi untuk tiap eigenvalue di Langkah 2 punya komponen
pertama vq,0 berikut:
xq
vq,0
wq=π⋅vq,02
Aq=wq/π=vq,02
0
0.730297
0.945309
0.533333
±0.958572
0.471251
0.393619
0.222076
±2.020183
0.106098
0.019953
0.011257
(∑wq=π≈1.772454, ∑Aq=1 tepat) - Aq inilah yang dipakai sebagai bobot
kuadratur di #5.2.1.
Keterangan variabel (tambahan untuk EAP):
Simbol
Arti
θ^EAP
Estimasi = rata-rata (mean) posterior, bukan modus
θq, θq
Titik grid kuadratur Gauss-Hermite ke-q (skalar/vektor), akar Hpts digeser μd & diskalakan 2σd per dimensi (μd,σd dari prior_mean/prior_cov_diag, sama seperti MAP)
pts
Jumlah titik grid per dimensi (eap_quad_pts, default 21 di engine.rs:123)
Aq, A(θq)
Bobot kuadratur Gauss-Hermite (sudah termasuk densitas prior), =∏dAq,d, ∑qAq=1
L(θq)
Likelihood seluruh respons pada titik grid =∏iPi(θq)uiQi(θq)1−ui
5.1.2 Teori & Pembuktian: Standard Error (SE) untuk EAP#
Berbeda dari MLE/MAP (#3.1.1/#4.1.2)
yang mengandalkan aproksimasi asimtotik-normal (invers FIM/Hessian di satu titik), SE EAP dihitung
langsung dari bentuk posterior aktual - definisinya sendiri adalah standard deviation posterior[3, Eq.11, p.6] (dikutip di #5.1):
tidak butuh pendekatan Laplace/Gaussian di sekitar mode karena EAP mengintegralkan seluruh bentuk
posterior, bukan hanya kelengkungannya di satu titik - salah satu alasan EAP "tidak pernah divergen"
dan tetap stabil pada posterior yang skewed (lihat #5.3).
Pembuktian aljabar (identitas momen, bukan dikutip): variance bisa dihitung dua cara yang identik
secara aljabar - bentuk tersentral (Eq.11 di atas, dipakai manual di
#5.2.1 Step 6) dan bentuk momen mentah:
identik (selisih 6.8×10−5 murni akibat pembulatan tampilan 6-desimal pada wq, bukan
kesalahan aljabar) dengan hasil bentuk tersentral di #5.2.1
Step 6: se(θ^EAP)=0.850911 - membuktikan kedua bentuk identik secara aljabar.
Identik dengan kode produksi:eap.rs:50-110 mengakumulasi tiga penjumlah sekaligus dalam
satu pass atas grid (num=∑θqwq, num2=∑θq2wq, den=∑wq), lalu menghitung
variance = num2[d]/den - mean*mean (eap.rs:103) - persis identitas momen-mentah yang dibuktikan
di atas, dipilih karena efisiensi: satu pass kuadratur ptsk-titik, bukan dua (pass pertama untuk
θ^EAP, pass kedua untuk (θ−θ^EAP)2 seperti bentuk tersentral manual).
posterior_se yang dihasilkan (None hanya bila den terlalu kecil untuk dinormalisasi, mis. seluruh
titik grid punya likelihood yang collapse ke nol) inilah yang dipakai McatEngine::compute_se
(engine.rs:190-196, cabang EstimationMethod::Eap) sebagai SE EAP - tanpa jatuh ke formula
gaya-MAP kecuali eap_posterior_se benar-benar None (lihat komentar engine.rs:167-172).
0b. Eigenvalue J5 = node xq - dekomposisi eigen matriks di atas (untuk n=5 bisa diverifikasi
lewat reduksi H5(x)=8x(4x4−20x2+15) ke persamaan kuadrat 4u2−20u+15=0 pada u=x2) memberi
xq={0,±0.958572,±2.020183}
lalu diskalakan ke domain θ lewat θq=2σxq (σ=1 dari prior N(0,1)):
Karena node/bobot Gauss-Hermite dibangun tepat untuk mengintegralkan terhadap e−x2 - yang
setelah substitusi θ=2σx menjadi N(θ;0,σ2) - Aqsudah
merepresentasikan "densitas prior × lebar kuadratur" tanpa perlu evaluasi N(θq;0,1)
secara terpisah (lihat #5.1):
θq
Aq=wq/π
−2.856970
0.011257
−1.355626
0.222076
0.000000
0.533333
+1.355626
0.222076
+2.856970
0.011257
Step 3: Hitung weight wq=L(θq)×Aq untuk setiap titik
θq
L(θq)
Aq
wq=L×A
−2.856970
0.013580
0.011257
0.013580×0.011257=0.000153
−1.355626
0.115736
0.222076
0.115736×0.222076=0.025702
0.000000
0.500000
0.533333
0.500000×0.533333=0.266667
+1.355626
0.884264
0.222076
0.884264×0.222076=0.196374
+2.856970
0.986420
0.011257
0.986420×0.011257=0.011105
sum
0.500000
(Total tepat 0.500000 - bukan kebetulan: dengan node/bobot Gauss-Hermite simetris dan
P(−θ)=1−P(θ)=Q(θ) (simetri fungsi logistik), ∑qAqP(θq) selalu sama
persis dengan ∑qAqQ(θq), dan keduanya berjumlah ∑qAq=1 - jadi masing-masing
tepat 0.5, terlepas dari nilai a. Ini konsekuensi struktural dari kuadratur yang genuinely
ternormalisasi, berbeda dari grid berjarak-sama yang totalnya sembarang.)
Simetri mean prior (0) ditambah likelihood yang lebih terkonsentrasi di dekat 0 menghasilkan EAP
yang moderat (0.525) dibanding MLE yang divergen atau MAP yang shrink lebih dalam untuk kasus
serupa.
Karena prior multivariate normal dengan Σ=I (diagonal & independen), bobot
kuadratur juga terfaktorisasi per dimensi:
A(θq)=A(θq,1)A(θq,2)A(θq,3)
Bobot Aq per dimensi dapat di-cache sebelum grid kombinasi - menghemat perhitungan.
Kenapa hasilnya 125? Tiap dimensi (θ1,θ2,θ3) punya 5 pilihan titik yang sama
persis (5 node dari #5.2.1). Untuk bikin 1 titik grid
3-dimensi, kita ambil 1 pilihan dari dimensi-1, 1 pilihan dari dimensi-2, dan 1 pilihan dari
dimensi-3 - dan ketiganya bebas, tidak saling bergantung.
Analoginya: bayangkan memilih baju (5 pilihan warna), celana (5 pilihan model), dan sepatu (5
pilihan jenis) untuk bikin 1 "outfit". Tiap kombinasi baju+celana+sepatu adalah outfit yang berbeda.
Karena tiap potongan pakaian dipilih bebas dari yang lain, total outfit = 5×5×5=125 -
bukan5+5+5=15 (itu kalau cuma pilih salah satu jenis pakaian saja, bukan gabungan ketiganya).
Sama persis logikanya di sini: 5 pilihan untuk θ1, dikali 5 pilihan untuk θ2, dikali
5 pilihan untuk θ3 = 125 titik grid total. Ketiga dimensi memakai daftar 5 node yang identik
(node index 1,2,3,4,5):
nodes=[−2.856970,−1.355626,0.000000,+1.355626,+2.856970]
Contoh sebagian kecil (bukan semua 125) untuk menunjukkan pola indeks
(q1,q2,q3)→[nodes[q1],nodes[q2],nodes[q3]]:
(q1,q2,q3)
θq
Posisi
(1,1,1)
[−2.857,−2.857,−2.857]
pojok kubus (node terkecil di ketiga dimensi)
(5,5,5)
[+2.857,+2.857,+2.857]
pojok kubus berlawanan
(3,3,3)
[0,0,0]
pusat grid (node tengah di ketiga dimensi)
(2,3,3)
[−1.356,0,0]
dekat pusat, bergeser hanya di dimensi-1
(5,1,5)
[+2.857,−2.857,+2.857]
salah satu pojok campuran tanda
Untuk melihat/mengecek keseluruhan 125 kombinasi, cukup jalankan 3 loop bersarang for q1 in 0..5 { for q2 in 0..5 { for q3 in 0..5 { ... } } } - inilah yang dilakukan kode produksi di eap.rs (loop atas
ptsk titik). Tabel Step 2 di bawah hanya mengambil 12 dari 125 titik ini sebagai sampel ilustrasi.
Step 2: Sampel titik grid (12 dari 125 titik, untuk ilustrasi)
θq=[θq,1,θq,2,θq,3]
L(θq)
A(θq)=∏kAq,k
wq=L×A
Keterangan
[−2.857,−2.857,−2.857]
≈0
0.000001
≈0
Sudut ekstrem
[−2.857,−1.356,0]
0.000010
0.001333
≈0
Edge
[−1.356,−1.356,−1.356]
0.000004
0.010952
≈0
Sudut sedang
[−1.356,0,0]
0.001919
0.063168
0.00012120
[0,0,0]
0.007464
0.151704
0.00113237
Pusat grid (mode-like)
[0,0,+1.356]
0.001583
0.063168
0.00010001
[+1.356,0,0]
0.001951
0.063168
0.00012323
[+1.356,+1.356,+1.356]
0.000006
0.010952
≈0
Sudut sedang
[+1.356,+1.356,0]
0.000101
0.026303
0.00000265
[+2.857,−2.857,+2.857]
≈0
0.000001
≈0
Sudut ekstrem
[+2.857,+2.857,−2.857]
≈0
0.000001
≈0
Sudut ekstrem
[+2.857,+2.857,+2.857]
≈0
0.000001
≈0
Sudut ekstrem
113 titik lain
..
..
..
Dikerjakan via loop
Step 3: Agregasi keseluruhan 125 titik (dihitung via loop, hasil final):
Dilakukan per dimensi dengan tabel momen kedua, hasil (dari API):
se(θ^EAP(pts=5))≈[0.6106,0.6635,0.5311]
Step 5: Ulangi dengan grid lebih halus pts=21
Grid Gauss-Hermite per dimensi: 21 node (akar H21, diskalakan 2σ) - tidak
berjarak sama seperti grid linear, node lebih rapat di dekat 0 dan merenggang menuju ekor.
Total kombinasi: 213=9261 titik.
Integrasi dilakukan dengan prosedur identik (tetapi 9261 kali lebih banyak perhitungan):
Grid pts=21 (9261 titik): numeric −0.3641 sangat dekat ke MAP −0.3656 (selisih 0.4%)
Sesuai teori: EAP dan MAP mengintegralkan/memaksimalkan posterior yang samag(θ)=f(θ)L(θ), dan estimasi EAP konvergen ke MAP seiring resolusi grid pts→∞ (integral numerik → integral kontinyu). Karena kuadratur Gauss-Hermite eksak untuk fungsi polinomial hingga derajat 2⋅pts−1, konvergensinya jauh lebih cepat per titik dibanding grid linear naif - selisih pts=5 terhadap MAP di sini (17.5%) sudah jauh lebih kecil daripada yang didapat grid berjarak-sama pada resolusi setara.
Versi sederhana: MAP mencari puncak kurva posterior, EAP menghitung rata-rata kurva posterior yang sama. Kalau kurvanya berbentuk lonceng simetris, puncak dan rata-rata letaknya hampir sama - makanya EAP ≈ MAP. EAP sendiri dihitung pakai grid (sampel titik), jadi bukan integral asli yang mulus - makin banyak titik grid (pts makin besar), makin dekat hasil EAP ke integral "sebenarnya", dan makin dekat pula ke MAP. Buktinya di angka di atas: pts=5 bedanya 17.5% dari MAP, pts=21 tinggal 0.4%. Gauss-Hermite juga irit - beda dari grid biasa (jarak sama rata), sedikit titik saja sudah cukup akurat.
Grid pts=5 sengaja dibuat kasar di atas supaya semua 125 titik bisa ditampilkan & dipahami secara manual; produksi menggunakan pts=21 untuk presisi yang wajar.
Data identik #5.2.3/#4.2.3 (3 item, u=[1,1,1], prior N(0,I), pts=21):
Item
a
d
u
m2p-v001
[1.9,0.2,0.3]
0.40
1
m2p-n001
[0.3,1.9,0.4]
0.80
1
m2p-r001
[0.5,0.4,2.0]
0.30
1
Hasil final:
Metode
θ^
∥θ^∥
Status
MLE
[16.065,14.291,11.594]
24.43
Divergen (stop after 100 iter)
MAP
[0.472,0.369,0.450]
0.75
Finite (regularized by prior)
EAP
[0.584,0.480,0.564]
0.94
Finite by construction
Penjelasan mengapa EAP tetap finite:
Berbeda dengan MAP yang mengatasi divergen melalui mekanisme regularisasi dinamis (prior gradient menarik balik), EAP tetap finite untuk alasan struktural:
Integral atas domain terbatas: Eq.10 #3.1 dihitung hanya atas grid Gauss-Hermite
pts titik per dimensi - domainnya adalah rentang akar Hpts (diskalakan 2σ), yang
untuk pts=21 berarti ∣θq∣≤7.849 per dimensi (bukan ±3σ tetap - rentang node
terluar Gauss-Hermite melebar seiring pts membesar, tapi tetap terbatas untuk pts berapa pun)
Pembilang & penyebut selalu finite:
Penyebut: ∑qwq=∑qL(θq)A(θq) adalah jumlah terbatas nilai-nilai finite
Pembilang: ∑qθqwq juga terbatas karena ∣θq∣≤7.849 di grid (pts=21), dan bobot wq terbatas
Tidak ada iterasi divergen: Tidak seperti MLE/MAP yang involve Newton-Raphson iteratif dengan potensi loop tak-terbatas, EAP adalah komputasi satu-pass (sekali jalan grid, langsung dapat hasil)
Step-by-step komputasi EAP untuk kasus all-correct:
Step 1: Evaluasi likelihood di titik ilustrasi (bukan node Gauss-Hermite literal, dipilih sebagai
angka bulat untuk menunjukkan pola secara jelas)
Perhatian: Semua likelihood positif dan terbatas - tidak ada yang eksplosi menuju infinity
Step 2: Evaluasi prior di grid (multivariate normal N(0,I))
Prior presisi (independent per dimensi):
θq
π(θq)=∏kπ(θq,k)
Bobot
[0,0,0]
0.39893=0.0635
Tertinggi (di mean prior)
[1,1,1]
(0.3989×e−0.5)3=(0.2420)3=0.0142
Sedang
[2,2,2]
(0.3989×e−2)3=(0.0540)3=0.000157
Kecil
[3,3,3]
(0.3989×e−4.5)3=(0.0066)3=0.000000287
Sangat kecil
Step 3: Hitung weight untuk setiap titik wq=L(θq)×π(θq)
θq
L(θq)
π(θq)
wq
[0,0,0]
0.2374
0.0635
0.01507
[1,1,1]
0.8786
0.0142
0.01247
[2,2,2]
0.9898
0.000157
0.000155
[3,3,3]
0.9992
0.000000287
0.000000287
116 titik lain (kombinasi campuran di grid 21×21×21)
..
Pola penting: Meskipun likelihood meningkat dengan ∥θ∥ (semua benar → push ke infinity di MLE), prior bobot menurun eksponensial. Hasil: produk keduanya (posterior weight) mencapai peak di titik intermediate, bukan di infinity.
Step 4: Agregasi integral untuk semua 21³=9261 titik grid
Denominator (normalisasi posterior):
Z=∑q=19261wq=0.244901(terbatas dan well-defined)
Dilakukan dengan tabel momen kedua pada 9261 titik, hasil: se≈[0.8320,0.8521,0.8331]
Perbandingan tiga metode pada all-correct:
Aspek
MLE
MAP
EAP
Hasil
[16.07,14.29,11.59]
[0.472,0.369,0.450]
[0.584,0.480,0.564]
Norm
24.43
0.75
0.94
Mekanisme finite
DIVERGEN
Regularisasi dinamis (prior gradient)
Struktur integral (domain terbatas)
SE
N/A (divergen)
≈[0.4,0.4,0.4]
[0.83,0.85,0.83]
Interpretasi
Tidak berguna
Over-regularized?
Moderat, interpretabel
Kesimpulan structural:
EAP finite bukan karena prior memberi penalti (seperti MAP), melainkan karena integral numerik atas domain terbatas adalah operasi yang fundamentally terbatas. Posterior dihitung sebagai:
g(θ)=L(θ)×π(θ)
Walaupun L bisa naik monoton menuju 1 (pola semua-benar), prior π menurun eksponensial menjauh dari mean μ. Hasil perkalian adalah distribusi yang terkonsentrasi. Integrasi atas grid terbatas [−3σ,3σ]k otomatis menghasilkan integral yang finite dan well-defined untuk pola respons apa pun - tidak ada kasus patologi seperti divergen MLE atau over-shrinkage MAP.
Tidak pernah divergen, untuk alasan yang lebih fundamental dari MAP: bukan hasil regularisasi
optimasi, melainkan sifat integral pada domain terbatas - dibuktikan di #5.2.3.
Tidak butuh titik awal/iterasi Newton-Raphson sama sekali (tidak ada risiko konvergen ke
maksimum lokal yang salah, tidak seperti MLE/MAP) - estimasi dihitung langsung dari satu kali
penjumlahan grid.
Kuadratur Gauss-Hermite eksak untuk fungsi polinomial hingga derajat 2⋅pts−1 (Golub &
Welsch 1969 [7], detail algoritma di #5.1), sehingga bobotnya Aq sudah mengintegralkan densitas prior Gaussian secara
analitik dan otomatis ternormalisasi (∑qAq=1 tepat - dibuktikan di #5.2.1 Step 3).
Versi paling sederhana: bayangkan mau menimbang berapa "berat" tiap titik grid dalam kurva lonceng (prior). Cara naif: pakai grid jarak-sama rata terus dikira-kira beratnya - butuh banyak sekali titik biar hasilnya halus dan akurat. Gauss-Hermite lebih pintar: posisi & berat titiknya sudah dihitung lewat rumus matematis khusus yang "cocok" dengan bentuk kurva lonceng itu, jadi:
Otomatis pas - total semua berat pasti tepat 1 (100%), tanpa perlu dicek/dikoreksi lagi.
Hemat titik - 5 titik saja lewat Gauss-Hermite bisa seakurat puluhan/ratusan titik lewat grid biasa.
Grid biasa itu seperti menimbang badan dengan banyak titik sample sembarang lalu dirata-rata (butuh banyak sample biar akurat). Gauss-Hermite itu seperti sudah tahu persis di titik mana harus menimbang dan berapa bobot masing-masing, supaya hasilnya presisi walau sample-nya sedikit.
"Grid biasa" (atau disebut juga grid linear/naif) itu cara paling sederhana bikin titik-titik sampel: titik-titiknya berjarak sama rata, seperti mistar/penggaris. Contoh: kalau mau bikin 5 titik grid di rentang [−3,3], grid biasa tinggal bagi rata: −3,−1.5,0,1.5,3 Jaraknya sama semua (1.5), dan bobot tiap titik juga biasanya disamakan
Kekurangan:
Akurasi tetap bergantung pada resolusi gridpts (meski konvergensinya lebih cepat per titik
dari grid linear) - dibuktikan di #5.2.2: pts=5 vs
pts=21 menghasilkan estimasi yang masih berbeda pada dimensi reasoning (0.134 vs
0.182). Biaya komputasi tumbuh ptsk - untuk k=3, pts=21 berarti 9261 evaluasi
likelihood per estimasi, jauh lebih mahal dari MLE/MAP (~3-5 iterasi Newton).
Node/bobot tidak berbentuk tertutup - tidak ada rumus aljabar sederhana yang langsung
menghasilkan posisi titik grid dan bobotnya (beda dengan grid berjarak sama, yang tinggal dihitung
dari pembagian rentang secara langsung). Untuk pts berapa pun selain kasus kecil tertentu,
satu-satunya cara praktis menghitungnya adalah lewat dekomposisi nilai eigen (algoritma
Golub-Welsch [7]) - proses numerik yang lebih rumit dan sedikit lebih mahal dibanding sekadar
membuat titik-titik berjarak sama. Perhitungan ini diulang setiap kali estimasi EAP dijalankan
(meski biayanya kecil untuk pts yang tidak terlalu besar, dan hasilnya sebenarnya bisa disimpan
untuk dipakai ulang selama pts dan bentuk prior tidak berubah).
Kalau grid biasa (jarak sama rata), posisi titiknya gampang dihitung sendiri pakai kalkulator - tinggal bagi rentang jadi beberapa bagian sama besar. Grid Gauss-Hermite tidak bisa dihitung sesimpel itu - tidak ada rumus langsung "masukkan angka, keluar posisi titik". Satu-satunya cara adalah lewat proses numerik yang cukup rumit (algoritma Golub-Welsch, sejenis proses aljabar linear/eigenvalue) yang dikerjakan komputer. Ini bukan masalah besar karena prosesnya cepat & murah, tapi maksudnya: setiap kali mau menjalankan EAP, komputer harus "menghitung ulang" posisi & bobot titik grid ini lebih dulu (bukan tinggal comot dari rumus) - kecuali hasilnya disimpan/di-cache dari sebelumnya untuk dipakai lagi selama pengaturannya (pts, bentuk prior) tidak berubah.
5.4 Cara Menentukan Jumlah Titik Grid (pts) yang Sesuai#
Karena akurasi EAP bergantung pada pts sementara biaya komputasi tumbuh ptsk (poin Kekurangan
di atas), memilih pts adalah trade-off eksplisit presisi vs waktu komputasi. Tidak ada rumus
tunggal untuk pts optimal, tapi
ada beberapa heuristik praktis:
1. Uji konvergensi empiris (paling andal). Naikkan pts bertahap (mis. 5→11→21→41) pada
data representatif, berhenti begitu θ^EAP tidak lagi berubah berarti (mis. selisih <se/10). Ini persis yang dilakukan #5.2.2:
pts=5→21 mengubah θ^reasoning dari 0.134 ke 0.182 - selisih masih signifikan,
artinya pts=5 terlalu kasar untuk dataset itu dan pts=21 lebih aman dipakai sebagai default.
2. Pertimbangkan derajat eksak kuadratur. Gauss-Hermite pts titik eksak untuk polinomial
hingga derajat 2⋅pts−1 (#5.1). Likelihood IRT bukan polinomial, tapi berbentuk
lonceng halus di sekitar mode - secara empiris pts di kisaran 15-21 biasanya sudah cukup untuk
kasus unidimensional/dimensi-rendah dengan diskriminasi item ai yang tidak ekstrem (likelihood
tidak terlalu tajam/sempit).
3. Pertimbangkan biaya ptsk terhadap jumlah dimensi k - biaya tumbuh eksponensial dengan
k, bukan cuma pts:
k
pts=11
pts=21
pts=41
1
11
21
41
2
121
441
1,681
3
1,331
9,261
68,921
Untuk k≥4, pts=21 berarti ≥194,481 titik per estimasi - kuadratur grid rectangular
jadi impraktis (curse of dimensionality) dan makin mahal walau kodenya sendiri sudah generik
untuk k berapa pun; pada titik ini MAP/MLE (biayanya tidak bergantung pts sama sekali) jadi
pilihan lebih realistis secara komputasi.
Ya (μ,Σ sama seperti MAP - prior_mean/prior_cov_diag, lihat #5.1)
N/A (bukan iteratif)
Tidak
Hasil numerik pada dataset identik (7 item, pola respons campuran - lihat
#5.2.2):
Metode
θ^verbal
θ^numeric
θ^reasoning
MLE
0.0380
-0.6537
0.2966
MAP (Σ=I)
0.0105
-0.3656
0.1340
EAP (pts=21)
0.0323
-0.3641
0.1824
SE pada dataset identik yang sama - teori masing-masing di
#3.1.1/#4.1.2/#5.1.2:
Metode
SEverbal
SEnumeric
SEreasoning
MLE
0.8309
0.8458
0.7536
MAP (Σ=I)
0.6294
0.6231
0.5704
EAP (pts=21)
0.6751
0.6679
0.6099
Pola SEMAP<SEEAP<SEMLE konsisten di semua dimensi: MAP paling kecil karena mode posterior +
kelengkungan Hessian penuh (termasuk prior) selalu memberi variance Laplace terkecil; MLE paling besar
karena tanpa informasi prior sama sekali; EAP di antaranya karena mengukur spread aktual posterior
(bisa lebih lebar dari sekadar kelengkungan di mode jika posterior tidak simetris sempurna).
Hasil numerik pada dataset all-correct (kasus divergen MLE) - lihat #5.2.3:
Metode
θ^
∥θ^∥
MLE
[16.065,14.291,11.594]
24.43
MAP
[0.472,0.369,0.450]
0.75
EAP
[0.584,0.480,0.564]
0.94
Aspek
MLE
MAP
EAP
Basis teori
Likelihood murni (frequentist)
Posterior mode (Bayesian)
Posterior mean (Bayesian)
Algoritma
Newton-Raphson / Fisher scoring
Newton-Raphson / Fisher scoring + prior
Kuadratur Gauss-Hermite (bukan iteratif)
Cocok untuk tahap tes
Menengah–akhir (butuh ≥ beberapa item non-separable)
Awal–akhir (aman sejak round 1)
Awal–akhir (aman sejak round 1, tapi mahal)
Risiko utama
Divergensi pada pola respons separable
Bias ke prior jika μ keliru
Akurasi bergantung pts
Biaya komputasi
Rendah (~3-5 iterasi k×k inverse)
Rendah (sama seperti MLE)
Tinggi (ptsk evaluasi likelihood + 1 dekomposisi eigen pts×pts)
Berlaku sama untuk kedua metode karena MAP dan EAP memakai prior normal multivariat
N(μ,Σ) yang identik (μ=prior_mean,
Σ=prior_cov_diag - lihat #4.1/#5.1); EAP hanya beda
cara memakainya (integral penuh, bukan penalti pada mode).
7.1 Cara Menentukan Mean (μ) dan Variance (Σ) yang Tepat#
Properness (#7.2 di bawah) hanya
menjamin prior valid secara matematis - tidak menjamin prior itu masuk akal secara
psikometrik. Bagian ini membahas cara memilih nilai μ,Σ yang
tepat, bukan sekadar sah. Magis & Raîche [3, p.4] menegaskan pemilihan ini murni soal keyakinan
tentang populasi: "The choice of a prior distribution is usually driven by some prior belief of
the ability distribution among the population of examinees." - lihat juga #4.1 untuk
kutipan lengkap dan #4.1.1 untuk peran Σ sebagai
kekuatan shrinkage.
1. Default weakly-informative: μ=0,Σ=I.
Skala
θ pada IRT tidak punya satuan natural (arbitrary scale) - konvensi standar adalah
menjangkarkan skala itu ke populasi rujukan berdistribusi normal baku, sehingga θ=0 berarti
"kemampuan rata-rata populasi" dan θ=±1 berarti "satu deviasi standar dari rata-rata". Cocok dipakai selama
tidak ada informasi tambahan tentang populasi examinee.
2. μ mewakili populasi, bukan tebakan tentang examinee itu sendiri.μ
adalah keyakinan
sebelum melihat respons examinee yang sedang dites - kalau nilainya digeser dari 0, pergeseran
itu harus berasal dari informasi agregat populasi/subgroup (mis. norma kelas, riwayat skor
tes lain yang berkorelasi, level pendidikan), bukan dari dugaan tentang kemampuan examinee
individu itu sendiri. Memilih μ berdasarkan examinee yang sama yang sedang diestimasi adalah
circular dan membuat estimasi bias secara sistematis ke arah tebakan itu.
3. Empirical Bayes: estimasi μ,Σ dari histori kalibrasi.
Kalau tersedia data
θ^MLE dari batch examinee sebelumnya pada populasi yang sama (mis. hasil administrasi
tes periode lalu), μ dan Σ untuk periode berikutnya dapat
diestimasi langsung sebagai mean dan kovarians sampel dari histori itu:
dengan N jumlah examinee historis dan θ^j estimasi kemampuan examinee
ke-j. Ini pendekatan empirical Bayes standar: populasi yang sama cenderung punya sebaran
kemampuan yang mirip antar periode, sehingga prior makin representatif dibanding default
N(0,I) yang generik.
Histori harus dari MLE, bukan dari MAP/EAP periode sebelumnya.θ^j di
atas idealnya adalah estimasi MLE, bukan hasil MAP/EAP periode lalu. Alasannya: MAP/EAP sudah
menarik (shrink) tiap θ^j ke arah μ prior yang dipakai saat itu
(#4.1.1), sehingga sebaran histori MAP/EAP sudah dipersempit
secara artifisial dibanding sebaran kemampuan populasi yang sesungguhnya. Kalau
Σ^ dihitung dari histori yang sudah di-shrink itu, hasilnya akan
under-estimate variance populasi asli - dan kalau prior periode lalu memang kurang tepat, bias
itu ikut terbawa ke prior baru (efeknya makin besar kalau prior lama itu kuat/Σ kecil).
Estimasi MLE tidak punya masalah ini karena murni dari data tanpa pengaruh prior sama sekali
(asalkan tidak divergen - lihat #3.1), sehingga mean/variance sampelnya representasi
paling jujur dari sebaran kemampuan populasi. Kalau yang tersimpan cuma histori MAP/EAP (tidak ada
MLE), tetap bisa dipakai sebagai pendekatan kasar, tapi dengan kesadaran Σ^
hasilnya kemungkinan lebih kecil dari variance populasi yang sebenarnya.
Contoh perhitungan (multidimensional, k=3). Misalkan tersedia θ^MLE
dari N=5 examinee periode sebelumnya, pada dimensi verbal/numeric/reasoning yang sama seperti
Item Bank Snapshot. Karena kode
produksi memakai Σ diagonal saja (prior_cov_diag, lihat
#4.1.1), mean dan variance dihitung per dimensi secara
independen - tidak ada kovarians antar dimensi yang dihitung/dipakai:
Examinee ke-j
θ^verbal
θ^numeric
θ^reasoning
1
0.8
-0.3
1.1
2
-0.5
0.6
0.2
3
1.2
-0.8
0.4
4
-0.3
0.9
-0.1
5
0.3
0.1
0.9
Step 1: Hitung mean tiap dimensi (μ^d) - rata-rata kolom, terpisah untuk tiap dimensi:
→ Prior untuk periode berikutnya: prior_mean = [0.3, 0.1, 0.5],
prior_cov_diag = [0.515, 0.465, 0.245] (dibanding default [0,0,0]/[1,1,1]). Interpretasi per
dimensi: populasi historis rata-rata sedikit di atas 0 pada ketiga dimensi (paling menonjol di
reasoning, μ=0.5), dan sebarannya di ketiga dimensi lebih sempit dari default (Σd<1
semua) - dimensi reasoning paling sempit (Σ=0.245) sehingga prior di dimensi itu menarik
paling kuat, dimensi verbal paling longgar (Σ=0.515) sehingga tarikannya paling lemah di
antara ketiganya.
4. Efek μ yang keliru terhadap estimasi.
Intinya: μ yang salah paling berbahaya di awal tes (item masih sedikit), dan efeknya makin
hilang sendiri seiring examinee menjawab lebih banyak item.
Kenapa begitu? Estimasi MAP ditarik oleh dua kekuatan sekaligus - "bukti dari jawaban examinee"
(IS(θ), makin besar kalau makin banyak item dijawab) dan "tarikan ke μ"
(Σ−1, besarnya tetap, tidak berubah walau item bertambah), karena
HMAP=IS(θ)+Σ−1 (#4.1). Di awal tes,
IS(θ) masih kecil (baru sedikit/belum ada bukti dari jawaban), jadi tarikan ke
μ mendominasi - kalau μ ternyata jauh dari kemampuan asli examinee, estimasi awal akan
condong salah ke arah μ itu (lihat tabel shrinkage di
#4.1.1). Begitu makin banyak item dijawab,
IS(θ) membesar dan lama-lama jauh mengalahkan Σ−1, sehingga
pengaruh μ yang keliru itu makin pudar dengan sendirinya.
5. Kalau μ tidak yakin, jangan pakai Σ kecil.
Σ kecil berarti prior "yakin"
dan menarik kuat ke μ (#4.1.1) - kombinasi μ yang
mungkin keliru dengan Σ kecil adalah kondisi bias terburuk (tarikan kuat ke titik yang
salah). Kalau tidak ada dasar empiris kuat untuk μ=0, lebih aman memakai Σ=I
(atau lebih besar) supaya likelihood cepat mendominasi begitu beberapa item pertama dijawab,
alih-alih Σ kecil yang mengunci estimasi ke μ yang belum tentu benar.
Ringkasan praktis:
Situasi
μ
Σ
Tidak ada informasi populasi
0
I (weakly-informative)
Ada histori kalibrasi dari populasi sama
mean sampel histori
kovarians sampel histori
Ada info subgroup (mis. norma kelas) tapi bukan dari examinee ini
mean subgroup
≥ variance populasi subgroup (jangan lebih kecil dari sebaran asli)
μ tidak yakin/berisiko keliru
tetap 0 atau estimasi terbaik
besar (longgar), bukan kecil
7.2 Cara Mengecek Properness (Simetris & Positive-Definite)#
Prior f(θ) disebut proper kalau memenuhi dua syarat:
f(θ)≥0 untuk semua θ, dan
∫f(θ)dθ
terintegrasi ke nilai finite (dapat dinormalisasi menjadi 1).
Sebaliknya, improper prior - mis.
flat prior di seluruh (−∞,∞) atau prior Jeffreys 1/θ di (0,∞) - integralnya
divergen sehingga bukan distribusi probabilitas yang valid.
Untuk prior normal multivariat N(μ,Σ) yang dipakai di MAP
dan EAP pada dokumen ini, properness cukup dicek lewat Σ saja:
Σ harus simetris (Σ⊤=Σ),
Σ harus positive-definite (semua eigenvalue >0, sehingga
Σ−1 ada dan finite).
Kalau kedua syarat itu terpenuhi, konstanta normalisasi distribusi normal multivariat otomatis
membuat integral totalnya =1 - properness terjamin tanpa perlu menghitung integral manual. Secara
praktis, pengecekan positive-definite bisa dilakukan lewat dekomposisi Cholesky: jika dekomposisi
berhasil, Σ positive-definite (proper); jika gagal, Σ singular atau
punya eigenvalue ≤0 (bukan kovarians valid, prior tidak proper).
Kasus khusus N(0,I) - yang dipakai sebagai default di beberapa demo -
selalu proper di dimensi berapa pun, karena matriks identitas I otomatis simetris dan
semua eigenvalue-nya =1>0, tanpa bergantung pada input apa pun.
Contoh Σ proper selain I (K=3):
Σ=1.50.300.31.20.200.21.0
Varians tiap dimensi tidak seragam (1.5, 1.2, 1.0) dan ada korelasi prior antar θ1-θ2
(0.3) serta θ2-θ3 (0.2), sementara θ1-θ3 diasumsikan independen (0).
Semua minor positif → Σ positive-definite → Σ−1 ada dan finite →
prior proper.
Contoh gagal (kontras):Σinvalid=[1221]
simetris, tapi M2=1(1)−22=−3<0 → bukan positive-definite (korelasi 2 melebihi batas valid untuk
varians 1 & 1, seharusnya korelasi ternormalisasi ∈[−1,1]). Σ−1 tetap bisa dihitung secara
aljabar, tapi bukan kovarians valid, sehingga bukan prior proper meski syarat simetri terpenuhi.
Penting: properness murni sifat f(θ) (yakni μ dan Σ)
tidak bergantung pada bank soal. Parameter item (a, d, c) dan respons examinee hanya
masuk ke likelihood L(θ), bukan ke prior; bank soal memengaruhi akurasi/bias hasil
estimasi, bukan properness prior itu sendiri.
[2] Baker, F. B. (2001). The Basics of Item Response Theory (2nd ed.). ERIC Clearinghouse on
Assessment and Evaluation, University of Maryland. Full text gratis (ERIC ED458219):
https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED458219.pdf (mirror: https://www.ime.unicamp.br/~cnaber/Baker_Book.pdf).
Sumber untuk Bab 5 "Estimating an Examinee's Ability" (p.85-90): formula iteratif MLE univariat
Eq.[5-1] (p.86), contoh tiga-item lengkap dengan nilai a priori (p.87), dan tabel iterasi
1-2 yang direproduksi persis di #3.2.1 (p.88). Sama seperti [2] pada
item_selection_summary.md (di sana dipakai untuk Bab 6
"The Information Function", di sini untuk Bab 5).
[3] Magis, D., & Raîche, G. (2012). Random Generation of Response Patterns under Computerized
Adaptive Testing with the R Package catR. Journal of Statistical Software, 48(8), 1–31.
https://doi.org/10.18637/jss.v048.i08 - Open access (JSS). PDF:
https://www.jstatsoft.org/index.php/jss/article/view/v048i08/600 (landing page:
https://www.jstatsoft.org/v48/i08/). Sumber utama #2.2 "Ability estimation" (p.4-6): definisi ML
(Eq.2-4, p.4), Bayes Modal/MAP (Eq.5-6, p.4-5), Jeffreys' prior (Eq.7-9, p.5, tidak dipakai kode
produksi), EAP (Eq.10-11, p.5-6), dan Weighted Likelihood/Warm estimator (Eq.12-14, p.6, tidak
diimplementasikan produksi - dicatat sebagai pembanding di #4).
[4] Mislevy, R. J. (1986). Bayes modal estimation in item response models. Psychometrika,
51(2), 177–195. https://doi.org/10.1007/BF02293979 - Sumber asli/historis estimasi Bayes
Modal (MAP). Tidak berhasil diakses gratis (Springer/Psychometrika berbayar) - klaim yang berasal
dari Mislevy (1986) pada dokumen ini hanya diverifikasi secara tidak langsung lewat definisi &
nomor persamaan yang direproduksi eksplisit di [3, Eq.5-6, p.4-5].
[5] Bock, R. D., & Mislevy, R. J. (1982). Adaptive EAP estimation of ability in a
microcomputer environment. Applied Psychological Measurement, 6(4), 431–444.
https://doi.org/10.1177/014662168200600405 - Sumber asli/historis estimasi EAP. Tidak berhasil
diakses gratis (SAGE berbayar) - klaim yang berasal dari Bock & Mislevy (1982) pada dokumen ini
hanya diverifikasi secara tidak langsung lewat definisi & nomor persamaan yang direproduksi
eksplisit di [3, Eq.10-11, p.5-6], yang juga menyitasi Bock & Mislevy (1982) secara langsung
sebagai sumber EAP (p.5).
[6] Chalmers, R. P. (2012). mirt: A Multidimensional Item Response Theory Package for the R
Environment. Journal of Statistical Software, 48(6), 1–29. https://doi.org/10.18637/jss.v048.i06
Open access (JSS). PDF: https://www.jstatsoft.org/index.php/jss/article/view/v048i06/598
(landing page: https://www.jstatsoft.org/article/view/v048i06). Sumber untuk model M3PL
multidimensional dengan skala D (Eq.1, p.3 - produksi tidak memakai skala D, konsisten dengan
[1, Eq.1]) dan pola diskretisasi grid kuadratur multi-indeks k-dimensi (Eq.6, p.5), dipakai
sebagai pembanding teknik untuk grid EAP di #3.1 (catatan: Eq.6 [6] pada paper aslinya
mengintegralkan θ sebagai nuisance parameter pada estimasi parameter item/EM, bukan pada
estimasi EAP examinee individual - hanya teknik diskretisasinya yang dipakai sebagai pembanding,
bukan rumusnya secara langsung).
[7] Golub, G. H., & Welsch, J. H. (1969). Calculation of Gauss Quadrature Rules. Mathematics of
Computation, 23(106), 221–230. https://doi.org/10.1090/S0025-5718-69-99647-1 - Sumber asli algoritma
Golub-Welsch (nilai eigen matriks Jacobi tridiagonal → node/bobot kuadratur Gauss) dipakai persis oleh
gauss_hermite() di eap.rs:12-30. PDF di halaman jurnal (ams.org) mengembalikan HTTP 403 saat
diambil langsung - tidak berhasil diverifikasi full text gratis. Klaim yang berasal dari paper ini
pada dokumen ini (konstruksi matriks Jacobi, rumus bobot wq=μ0vq,02) diverifikasi secara
tidak langsung: (a) turunan aljabar dari rekursi tiga-suku polinomial Hermite di #5.1
menghasilkan matriks off-diagonal yang identik dengan kode produksi, dan (b) untuk pts=5, akar H5
yang diturunkan analitik (faktorisasi H5(x)=8x(4x4−20x2+15), tanpa dekomposisi eigen sama sekali)
cocok tepat dengan node numerik yang dihasilkan gauss_hermite() dan dipakai di
#5.2.1.